Harmonize A Better Environment

Algae For The Next Generations Better Air Quality

Air pollution, as one of our era’s greatest problem. Every year, 4.2 million people die because of exposure to air pollution.

We’re passionate about making a difference in the fight against climate change by using algae as a sustainable and effective solutions to mitigate the high levels of air pollution. Making it a viable and eco-friendly alternative.

Our Services

– Delivering Excellence Through Comprehensive Services –

For All Existing Installation

Routine Maintenance

Maintenance for every 14 days to remove algae that has reached the stationary period and clean water replacement.
MORE INFO

All-in Maintenance

Maintenance every 90 days to do a full check of the unit.
MORE INFO

Component Replacement and Spare parts

We are responsible if there are damaged or malfunctioning components. Genuine spare parts are available for purchase.

Algae & Nutrients Supplies

Algae and nutrients used in our products are available for separate purchase for your own custom needs.

News Update

DETIK : Teknologi Mikroalga BRIN Serap 5,5 Ton CO2 Setahun

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria bersama Direktur PT Alam Semesta Integra (ASI) Eddy Setiawan meluncurkan Pilot Project Olimpus Fotobioreaktor Carbon Capture Utilization and Storage (FCCUS) di Jakarta, Kamis (8/10/2026). Kolaborasi ini merupakan bentuk hilirisasi riset untuk menjawab kebutuhan pengurangan emisi di kawasan perkotaan dan industri yang memiliki keterbatasan lahan. Berbeda dengan CCS industri, teknologi CCUS berbasis mikroalga jenis Spirulina platensis ini memanfaatkan proses fotosintesis untuk menyerap karbon dioksida. Satu unit alat tersebut terverifikasi mampu menangkap hingga 5,5 ton CO2 per tahun sekaligus menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut. Kemampuan penyerapan 5,5 ton CO2 per tahun tersebut setara dengan daya serap sekitar 110 pohon mahoni. Luas lahan yang dibutuhkan satu unit fotobioreaktor ini jauh lebih efisien, yakni hanya membutuhkan area sekitar 25 meter persegi dibandingkan penanaman pohon mahoni yang memerlukan lahan hingga 10.000 meter persegi. Untuk menjaga kinerja penyerapan tetap optimal dan mencegah kontaminasi mikroalga, perawatan berkala harus dilakukan. Pemeliharaan melalui pemanenan mikroalga dilakukan setiap bulan, sedangkan pembersihan unit fotobioreaktor dilakukan secara rutin setiap tiga bulan. Source : https://finance.detik.com/foto-bisnis/d-8698314/teknologi-mikroalga-brin-serap-5-5-ton-co2-setahun

TEMPO : Begini Wujud Olimpus, Penyerap Karbon Berbasis Mikroalga

BRIN dan PT ASI meluncurkan pilot project Olimpus Apollo 1.0, penangkap karbon berbasis mikroalga. TEKNOLOGI penangkap karbon generasi baru yang digarap Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Alam Semesta Integra (ASI), Olimpus Apollo 1.0, memanfaatkan mikroalga untuk menyerap karbon dioksida (CO2) dan menghasilkan oksigen. Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pengembangan Fotobioreaktor Carbon Capture Utilization and Storage (FCCUS) itu merupakan salah satu upaya merespons persoalan emisi karbon, terutama di wilayah padat kendaraan. “Ini terobosan yang sangat penting, apalagi di Jakarta yang pertumbuhan kendaraan bermotornya semakin tinggi,” ucapnya dalam acara peluncuran di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026. Menurut Arif, teknologi yang merespons perubahan iklim harus dikembangkan sambil memperhatikan kondisi lingkungan. Ia berharap cara kerja Olimpus Apollo 1.0 dapat dapat diperluas di Indonesia, sebagai bagian dari program pengurangan emisi dan peningkatan kualitas lingkungan perkotaan. Arif menilai kerja sama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) dengan industri dapat menghasilkan teknologi yang tepat untuk menangkap karbon. Proyek Olimpus ini juga memakai internet of things (IoT) yang disediakan oleh Grup Telkomsel. Dia juga memastikan Olimpus Apollo 1.0 telah diverifikasi oleh TÜV SÜD Indonesia, perpanjangan tangan penyedia jasa pengujian dan audit asal Jerman. Dalam waktu 3 bulan, dia mengklaim, perangkat ini mampu menyerap karbon setara 110 buah pohon mahoni berusia lebih dari 15 tahun. "Dengan kebutuhan lahan mencapai sekitar 5.000 sampai 10.000 meter persegi,” tutur Arif. Direktur PT Alam Semesta Integra Eddy Setiawan mengatakan perangkat tersebut akan dikomersialkan setelah tahap pilot project. Target pasar awalnya mencakup perusahaan yang memiliki kebutuhan Environmental, Social, and Governance (ESG), termasuk BUMN dan perusahaan publik, serta perusahaan yang ingin menjalankan corporate social responsibility (CSR). Eddy menyebut Olimpus berbeda dengan carbon capture and storage (CCS) yang umumnya diterapkan pada fasilitas industri seperti kilang minyak dan pembangkit listrik. Olimpus, kata dia, bisa masuk ke area urban dan industri. “Untuk calon user, setiap bulan kami akan mengirimkan data berapa banyak CO2 dan O2 yang sudah diproduksi,” ujar dia. PT ASI menyediakan paket pemeliharaan fasilitas selama tiga tahun. Perawatan harus dilakukan secara bulanan, mengingat mikroalga di dalam fotobioreaktor terus tumbuh dan perlu dipanen. Selain pemanenan mikroalga, ada juga pembersihan seluruh fotobioreaktor setiap tiga bulan untuk mencegah biofilm dan kontaminasi. Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, BRIN Luki Subehi, mengatakan riset ihwal FCCUS sudah berjalan sejak 2021. Pada tahap awal, riset masih berjalan skala laboratorium, dengan volume sekitar tiga liter. “Dengan adanya industri PT ASI ini, kami berani (memperbesar kapasitas) menjadi 300 liter, lalu 3.000 liter,” katanya, dalam agenda yang sama Sumber: https://www.tempo.co/sains/begini-wujud-olimpus-penyerap-karbon-berbasis-mikroalga--2299446

Techrunner : Setara dengan 110 Pohon, BRIN Luncurkan Teknologi Penangkapan Karbon Berbasis Mikroalga untuk Kawasan Perkotaan

TECHRUNNER.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi meluncurkan teknologi penangkapan karbon berbasis fotobioreaktor mikroalga untuk kawasan perkotaan dan industri. Dalam pengembangan teknologi ini, BRIN menggandeng PT Alam Semesta Integra (PT ASI) yang merupakan perusahaan di bidang lingkungan. Kepala BRIN, Arif Satria mengatakan bahwa peluncuran teknologi penangkapan karbon berbasis mikroalga ini merupakan terobosan yang sangat penting serta bisa mendukung dekarbonisasi di kawasan perkotaan. “Hal yang penting di sini adalah, perangkat ini memiliki kemampuan menyerap karbon setara dengan 110 pohon mahoni yang usianya di atas 15 tahun. Jadi mudah-mudahan alat ini bisa dikembangkan dan diaplikasikan di berbagai tempat, agar penyerapan karbon terus bisa dilakukan dengan baik dan membuat udara lebih bersih,” ucap Arif saat meresmikan Pilot Project Olimpus Fotobioreactor Carbon Capture Utilization & Storage Apollo 1.0 di Kantor BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026. Arif menyebutkan bahwa perangkat ini telah memperoleh sertifikasi ISO 14064 serta sebagai upaya merespons perubahan iklim. Ia pun berharap teknologi ini bisa diterapkan secara masif di Indonesia, guna mengurangi emisi dan bisa membuat udara lebih bersih dan sehat. Selain itu, riset yang dilakukan juga dapat berkontribusi terhadap aspek ekonomi sehingga dapat mendukung transisi ekonomi hijau. “Project Carbon Capture Utilization yang berbasis mikroalga sekarang akan dipasang di Gedung BRIN. Moga-moga dengan teknologi ini adalah upaya kita merespons perubahan iklim, salah satu alirannya adalah ecological modernization dan salah satu bentuknya adalah teknologi,” ucapnya. “Aspek ekonomi dan perilaku sirkuler juga hadir untuk bisa memperkaya bagaimana kita mampu menganalisis pasar karbon dan proses efekitif terhadap perangkat tersebut untuk mendukung transisi ekonomi hijau,” sambungnya. Sementara itu, Direktur PT ASI, Eddy Setiawan mengatakan untuk menggerakan satu sistem perangkat ini ditenagai oleh energi tenaga surya atau solar panel. Cara kerjanya, mikroalga ini akan berfotosintesis saat terkena cahaya matahari dan cara penangkapan polusinya ada dua sistem. Satu di dalam air, satu lagi di permukaan air. “Unit kami ini ada yang indoor dan outdoor, kalau indoor menggunakan solar panel dan outdoor mengandalkan cahaya matahari. Namun kami juga siapkan energi untuk listrik, jadi hybrid,” kata Eddy. Ia mengatakan bahwa perangkat ini sangat efisien untuk penangkapan karbon, karena setara dengan 110 pohon mahoni, yang mana untuk menanam pohon tersebut dibutuhkan lahan sekira 5.000 sampai 1 hektar. “Unit Olimpus ini hanya 25 meter persegi, bagi kota-kota yang menghadapi keterbatasan ruang terbuka hijau. Dengan desain modular, dapat ditempatkan dan diintegrasikan di kawasan perkotaan, industri, jalan protokol, pusat perbelanjaan, hotel hingga berbagai fasiltas umum,” kata Eddy. Meski begitu, perangkat ini nantinya akan dikomersialisasikan, namun terkait urusan harga masih dalam tahap diskusi. “Yang jelas harga per unit kami masih dalam tahap diskusi, ya, karena banyak stakeholder yang terkait, ya. Tetapi secara komersil kami juga memberikan paket maintenance. Paket maintenance itu selama 3 tahun, dan maintenance yang kita lakukan adalah setiap bulan. Ya, setiap bulan kami akan mendatangkan tim untuk melakukan harvest. Karena mikroalga ini setiap hari dia bertumbuh, ya, dan akan menjadi padat, sehingga setiap bulan kami harus meng-harvest. Dan maintenance per 3 bulan kami akan menguras seluruh fotobioreaktor,” ucapnya. Manfaat Teknologi Penangkapan Karbon Periset BRIN, Irma mengatakan bahwa manfaat dari teknologi ini banyak selain menangkap karbon dioksida juga bisa membersihkan atmosfer. Lebih lanjut, mikroalga ini bermanfaat untuk bioenergi, bahan pangan hingga berbagai macam produk lainnya. “Mikroalga menangkap karbon dioksida, kemudian melepasnya menjadi oksigen. Dari mulai proses sampai hasil akhirnya pun bisa bermafaat, jadi enggak ada yang terbuang, istilahnya zero waste. Biomasanya juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, jadi ini sebenarnya sangat-sangat terintegrasi, bio-circular economy-nya juga jalan,” tuturnya. Ia pun berharap teknologi yang dihasilkan dari hasil riset ini bisa berada di tempat-tempat yang tinggi emisi. Pasalnya, perangkat ini ditujukkan untuk kawasan perkotaan dan industri. “Inginnya ada dimana-mana, awal projectnya ini megapolitan, artinya di tempat-tempat yang emisinya tinggi misal Jakarta atau kawasan industri seperti Bekasi dan Tangerang. Lokasi-lokasi yang tinggi emisi target utamanya. Jadi ini memang wilayah perkotaan, karena tujuannya untuk menangkap karbon dioksida yang bisa diubah menjadi oksigen,” ujarnya.   Source : https://techrunner.id/teknologi-penangkapan-karbon-brin/

BRIN Gandeng Industri Hilirisasi Teknologi Penangkap Karbon Berbasis Mikroalga

Jakarta-Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Alam Semesta Integra lakukan hilirisasi teknologi penangkap karbon berbasis mikroalga untuk mendukung upaya dekarbonisasi, khususnya di kawasan perkotaan. Kolaborasi riset bersama industri ini diwujudkan melalui Pilot Project Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) berbasis fotobioreaktor mikroalga Olimpus Apollo 1.0. Teknologi tersebut dikembangkan Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PR LSDA) BRIN sejak 2021 melalui prototipe FCB2022. Teknologi fotobioreaktor tersebut dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi biosekuestrasi dan eliminasi karbon dioksida (CO₂) dengan memanfaatkan mikroalga lokal terpilih Spirulina platensis. Sistem tersebut juga mengoptimalkan proses fotosintesis melalui pemilihan strain, formulasi medium pertumbuhan, serta pemantauan irradiance, pH, dan suhu secara real time. Konsep hasil riset tersebut kemudian dikolaborasikan dengan PT Alam Semesta Integra dan diimplementasikan dalam Olimpus Apollo 1.0 sebagai teknologi carbon removal untuk wilayah perkotaan. Sistem dirancang secara modular sehingga dapat ditempatkan pada berbagai ruang dan fasilitas publik. Kepala BRIN, Arif Satria mengatakan hilirisasi merupakan bagian penting dalam memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dikembangkan dan memberikan manfaat nyata. “Pengembangan teknologi penangkapan karbon dioksida menjadi salah satu respons terhadap tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor, khususnya di kawasan perkotaan seperti Jakarta. Jadi pada 2026, Proyek Percontohan Penangkapan, Pemanfaatan, dan Penyimpanan Karbon Berbasis Fotobioreaktor Mikroalgae ini akan dipasang di BRIN Gatot Subroto,” ujar Arif dalam acara inaugurasi Pilot Project Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) Berbasis Fotobioreaktor Mikroalgae di Jakarta, Kamis (8/10). Menurutnya, pendekatan teknologi dengan konsep ecological modernization diperlukan untuk menghadirkan kawasan perkotaan yang lebih bersih dan sehat sekaligus merespons tantangan perubahan iklim. Mikroalga memiliki kemampuan melakukan fotosintesis dengan menyerap CO₂, mengubahnya menjadi biomassa, sekaligus menghasilkan oksigen. Arif juga menegaskan, BRIN akan terus membangun ekosistem riset dan inovasi yang mempertemukan periset, industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya. Keberhasilan riset, menurutnya, tidak hanya diukur dari jumlah penelitian yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan hasil riset menjawab persoalan dan menciptakan nilai bagi Indonesia. “Semoga dengan teknologi ini semakin masif diterapkan di Indonesia kita bisa merespon perubahan iklim dengan lebih baik lagi, bisa mengurangi emisi dengan lebih baik lagi dan bahkan dengan carbon capture ini kita bisa membuat wilayah kita lebih bersih dan lebih sehat,” pungkas Arif di BRIN Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo, Gatot Subroto, Jakarta. Dirancang untuk Kawasan Perkotaan Direktur PT Alam Semesta Integra, Eddy Setiawan mengatakan pengembangan Olimpus diarahkan untuk menghadirkan teknologi penangkapan karbon yang dapat diterapkan di lingkungan perkotaan dengan kinerja yang dapat diukur. “Kami ingin menghadirkan solusi dekarbonisasi yang dapat diterapkan di kawasan perkotaan, ketika kebutuhan pengurangan emisi tinggi tetapi ketersediaan ruang hijau terbatas. Kolaborasi dengan BRIN menjadi penting untuk memastikan pengembangan teknologi memiliki fondasi riset yang kuat,” ujar Eddy. Eddy menjelaskan teknologi tersebut dirancang secara modular untuk berbagai lingkungan, mulai dari jalan protokol dan kawasan industri hingga fasilitas publik, pusat perbelanjaan, hotel, dan perkantoran. Dalam pengoperasiannya, udara ditarik dari empat sudut bagian bawah perangkat melalui 4D air intake system untuk kemudian masuk ke dalam fotobioreaktor. Perangkat memiliki panjang sekitar 4 meter, lebar 1 meter, dan tinggi kurang lebih 3 meter, dengan kebutuhan ruang atap sekitar 2,5 meter persegi. Sistem tersebut didukung panel surya dan listrik PLN. Pengukuran dan Verifikasi Kinerja Olimpus juga dilengkapi sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan bersama Telkomsel. Sistem tersebut mencakup 14 unit sensor untuk mengukur gas dan kualitas air setiap lima detik. Vice President Financial and CMT Account Management Telkomsel, Gian Wijoyo, mengatakan konektivitas IoT memungkinkan data dari perangkat dikirim dan diproses secara real-time. Data tersebut kemudian disimpan dalam platform dan ditampilkan melalui dashboard untuk menghasilkan informasi mengenai kondisi perangkat. “Ketika sudah ditransmisikan dengan menggunakan IoT connectivity itu ditangkap dengan IoT platform yang kami rancang juga bersama dengan tim Olimpus untuk bisa diproses dan juga disimpan dalam platform dan menghasilkan satu dashboard yang memberikan satu insight,” terang Gian. Untuk memastikan kinerja perangkat, teknologi tersebut telah melalui proses verifikasi independen oleh pihak ketiga. Presiden Direktur PT TUV SÜD Indonesia, Yuan Bambang Handayana menjelaskan bahwa verifikasi dilakukan menggunakan standar ISO 14064-2 (GHG Project) pada 28 Juni 2026. Berdasarkan hasil verifikasi, satu unit perangkat disebut mampu menyerap karbon yang setara dengan 110 pohon mahoni berusia di atas 15 tahun. Teknologi tersebut membutuhkan ruang sekitar 2,5 meter persegi, sementara pohon konvensional untuk kapasitas penyerapan yang disebutkan membutuhkan lahan sekitar 5.000 hingga 10.000 meter persegi. “Jadi alat ini berhasil menangkap atau mereduksi emisi klaim itu harus diverifikasi oleh third party organization, seperti TUV SUD. Jadi kita memverifikasi klaimnya betul dan kita mengeluarkan suatu statement bahwa carbon capture-nya berapa kemudian leakage-nya berapa dan sebagainya,” jelas Yuan. Hasil verifikasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan klaim kinerja teknologi sebelum dimanfaatkan lebih luas. Mendukung Aksi Iklim dan Ekonomi Hijau Ke depan, Olimpus ditargetkan dapat dimanfaatkan oleh entitas perusahaan publik maupun BUMN untuk mendukung pemenuhan standar kepatuhan Environmental, Social, and Governance (ESG) serta pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR). Pengguna teknologi akan memperoleh laporan mitigasi emisi setiap bulan sebagai bukti aksi iklim. Dari sisi pemeliharaan, perangkat tersebut didukung garansi selama tiga tahun serta layanan rutin berupa panen kepadatan mikroalga setiap bulan dan sterilisasi tangki fotobioreaktor setiap tiga bulan untuk mencegah terbentuknya biofilm. Peluncuran pilot project ini menandai langkah hilirisasi hasil riset BRIN melalui kolaborasi dengan mitra industri. Inovasi berbasis mikroalga tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan teknologi penangkapan karbon sekaligus memperkuat ekosistem green economy dalam mendukung upaya penurunan emisi dan pembangunan berkelanjutan. Acara inaugurasi turut dihadiri Direktur Utama PT Alam Semesta Integra, Eddy Setiawan, Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN, Mulyadi Sinung Harjono, Plt. Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN, Luki Subehi, serta jajaran pejabat dan mitra industri terkait. (ajn, rps/dok. pau/ed. mfs) Source : https://www.brin.go.id/news/130778/brin-gandeng-industri-hilirisasi-teknologi-penangkap-karbon-berbasis-mikroalga-1

Contact Us

WhatsApp us


Or you can fill the form below,

    This will close in 0 seconds

    This will close in 0 seconds